Menentukan frekuensi email marketing itu tricky.
Terlalu jarang, brand Anda dilupakan.
Namun, terlalu sering juga berbahaya.
Unsubscribe naik. Spam report mengintai.
Di sinilah banyak bisnis kejebak.
Bukan karena kontennya jelek, tapi ritmenya salah.
Kabar baiknya, tidak ada angka saklek.
Namun, ada pola logis yang bisa Anda pakai sebagai acuan.
Kenapa Frekuensi Email Itu Sensitif?
Inbox adalah ruang pribadi.
Orang tidak suka diserbu tanpa alasan.
Selain itu, algoritma email provider juga menilai perilaku audiens.
Semakin sering diabaikan, reputasi domain bisa turun.
Artinya, ini bukan sekadar soal nyaman atau tidak.
Ini soal deliverability jangka panjang.
Frekuensi Ideal Berdasarkan Jenis Bisnis
Setiap model bisnis punya kebutuhan berbeda.
Karena itu, ritmenya juga tidak bisa disamaratakan.
π 1. Bisnis Ritel & E-commerce (1β3 Kali Seminggu)
Jika bisnis Anda sering promo atau launching produk, frekuensi ini masih wajar.
Tujuannya menjaga produk tetap top of mind.
Namun, pastikan setiap email punya alasan kuat.
Promo random tanpa konteks cepat bikin capek.
πΌ 2. Bisnis Jasa & B2B (Mingguan atau 2Γ Sebulan)
Audiens B2B lebih menghargai insight.
Bukan email yang terlalu sering.
Newsletter mingguan atau dua kali sebulan sudah cukup.
Fokus pada edukasi dan kredibilitas.
π° 3. Konten Edukasi & Berita (Harian β Opsional)
Email harian boleh dilakukan.
Namun, hanya jika audiens memang mengharapkannya.
Ekspektasi harus jelas sejak awal.
Kalau tidak, unsubscribe akan jadi rutinitas.
Faktor Penting Selain Jumlah Kirim
Frekuensi bukan satu-satunya variabel.
Ada faktor lain yang sering diabaikan.
π― Kualitas Lebih Penting dari Kuantitas
Satu email bernilai jauh lebih efektif.
Daripada tiga email yang isinya paksaan jualan.
Inbox bukan tempat asal muncul.
Setiap email harus punya tujuan jelas.
π Relevansi Mengalahkan Jadwal
Email penting boleh melanggar jadwal.
Asal memang relevan dan dibutuhkan.
Promo besar, update penting, atau info krusial masih bisa diterima.
Kuncinya konteks, bukan angka.
π Data Selalu Lebih Jujur
Perhatikan Open Rate dan Unsubscribe Rate.
Angka ini tidak pernah bohong.
Jika unsubscribe naik setelah email ketiga, itu sinyal jelas.
Artinya, audiens Anda minta dikurangi.
Mengatur Frekuensi Email dengan Lebih Aman di Mailketing
Menentukan ritme ideal butuh konsistensi dan data.
Mailketing membantu di dua hal itu.
Bukan cuma kirim email.
Tapi juga membaca respon audiens.
Bagaimana Mailketing Membantu Menentukan Frekuensi Terbaik?
Berikut fitur yang paling relevan untuk urusan ritme pengiriman.
ποΈ Penjadwalan yang Fleksibel
Classic Editor memungkinkan penjadwalan rapi.
Email tidak menumpuk di hari yang sama.
Anda bisa atur jeda dengan lebih manusiawi.
Inbox audiens tetap lega.
π€ Autoresponder Berbasis Perilaku
Tidak semua email harus di-blast.
Autoresponder dikirim saat audiens melakukan aksi tertentu.
Hasilnya lebih relevan.
Dan jauh lebih jarang dianggap spam.
π Analisis Statistik yang Jelas
Mailketing menampilkan data engagement secara detail.
Anda bisa melihat email mana yang mulai menurun performanya.
Dari sini, keputusan jadi berbasis data.
Bukan asumsi.
π― Segmentasi untuk Kurangi Kebisingan
Tidak semua email untuk semua orang.
Segmentasi menjaga frekuensi tetap terkendali.
Audiens hanya menerima email yang relevan.
Tanpa merasa dibombardir.
Kesimpulan: Ritme Lebih Penting dari Nafsu Kirim
Berapa kali sebaiknya mengirim email?
Jawabannya tergantung nilai yang Anda berikan.
Mulailah dari frekuensi rendah.
Lalu naikkan perlahan sambil membaca data.
Konsistensi jauh lebih sehat daripada agresif.
Email marketing adalah maraton, bukan sprint.
π― Siap Menemukan Ritme Email Marketing yang Aman & Efektif?
Berhenti menebak-nebak jadwal kirim email.
Gunakan data untuk mengambil keputusan.
π Optimalkan jadwal email blast Anda dengan Mailketing
π Rasakan bedanya email yang konsisten, relevan, dan tidak dianggap spam.







