Pernahkah Anda sedang asyik membaca artikel atau melihat produk di sebuah website, lalu tiba-tiba muncul jendela kecil yang menawarkan diskon atau mengajak berlangganan newsletter?
Itulah yang disebut Pop-Up.
Bagi sebagian pengunjung, pop-up sering dianggap mengganggu. Namun bagi pemilik website dan pebisnis online, pop-up justru menjadi salah satu alat konversi paling efektif.
Pertanyaannya bukan lagi perlu atau tidak menggunakan pop-up, melainkan:
bagaimana cara menggunakan pop-up agar tetap disukai pengunjung dan tetap menghasilkan penjualan?
Mari kita bahas secara tuntas.
Apa Itu Pop-Up?
Pop-Up adalah elemen antarmuka (UI) berupa jendela kecil yang muncul di atas konten utama sebuah website.
Pop-up biasanya muncul secara otomatis berdasarkan aksi atau perilaku pengunjung, seperti:
- Saat pertama kali masuk website
- Setelah membaca halaman selama beberapa detik
- Ketika menggulir (scroll) halaman
- Saat hendak menutup tab browser (exit intent)
Tujuan utamanya adalah menarik perhatian pengunjung terhadap satu pesan penting.
Apa Fungsi Utama Pop-Up bagi Bisnis?
1. Menangkap Database (List Building)
Ini adalah fungsi pop-up yang paling populer.
Pop-up digunakan untuk:
- Mengajak pengunjung mengisi email
- Menawarkan imbalan (lead magnet) seperti e-book, diskon, atau template gratis
Hasilnya:
Anda mendapatkan database email yang bisa digunakan untuk email marketing jangka panjang.
2. Mempromosikan Penawaran Spesial
Sedang mengadakan:
- Flash Sale
- Promo terbatas
- Launching produk baru
Pop-up adalah cara tercepat memastikan setiap pengunjung mengetahui penawaran tersebut tanpa harus mencarinya sendiri.
3. Mengurangi Abandoned Cart
Pada toko online, pop-up sering digunakan saat:
- Pengunjung hendak meninggalkan website
- Masih ada produk di keranjang belanja
Pop-up ini biasanya berisi:
- Pengingat checkout
- Bonus diskon tambahan
- Penawaran gratis ongkir
Tujuannya jelas: mendorong transaksi selesai saat itu juga.
4. Menyampaikan Informasi Penting
Pop-up juga sangat efektif untuk pengumuman mendesak, seperti:
- Perubahan jam operasional
- Update kebijakan pengiriman
- Pemberitahuan maintenance website
Informasi penting jadi tidak terlewat oleh pengunjung.
Tips Agar Pop-Up Tidak Membosankan dan Mengganggu
Agar pop-up tidak menjadi “musuh” pengunjung, terapkan strategi berikut:
1. Pilih Timing yang Tepat
Jangan tampilkan pop-up di detik pertama.
Biarkan pengunjung mengenal konten Anda terlebih dahulu (10–20 detik) sebelum pop-up muncul.
2. Gunakan Desain yang Bersih dan Menarik
- Sesuai dengan branding website
- Tidak terlalu ramai
- Tombol Close harus jelas
Pengunjung harus merasa punya kendali, bukan dipaksa.
3. Tawarkan Value yang Jelas
Pengunjung tidak akan memberikan email mereka tanpa alasan.
Gunakan penawaran yang spesifik, misalnya:
- “Diskon Rp50.000 untuk Pembelian Pertama”
- “Download Checklist Gratis”
- “Akses Promo Eksklusif Member”
4. Pastikan Mobile Friendly
Mayoritas pengunjung datang dari smartphone.
Pastikan pop-up:
- Tidak menutupi seluruh layar
- Mudah ditutup dengan satu sentuhan
- Tidak melanggar pengalaman pengguna mobile
Kesimpulan
Pop-up bukanlah alat yang buruk — yang membuatnya tidak disukai adalah cara penggunaannya.
Jika digunakan dengan strategi yang tepat, pop-up justru:
- Membantu pengunjung menemukan penawaran terbaik
- Meningkatkan konversi website
- Menjadi sumber database berkualitas untuk bisnis Anda
Gunakan pop-up sebagai alat bantu, bukan alat pemaksa.
Hubungkan Pop-Up Website Anda dengan Mailketing
Semua email yang Anda kumpulkan dari pop-up harus dikelola secara rapi dan otomatis.
Dengan Mailketing, Anda bisa:
- Menghubungkan form pop-up langsung ke database email
- Menyimpan subscriber secara otomatis
- Mengirim email sambutan (welcome email) tanpa manual
- Membangun relasi jangka panjang lewat email marketing
👉 Mulai Kelola Database dari Pop-Up Anda Bersama Mailketing!







