Dalam dunia marketing, istilah buyer dan customer sering dipakai bergantian.
Namun, menyamakan keduanya adalah kesalahan yang mahal.
Banyak kampanye terlihat ramai.
Like ada.
Komentar banyak.
Namun, penjualan tetap sepi.
Masalahnya sering bukan di produknya.
Masalahnya ada di siapa yang Anda ajak bicara.
Buyer dan Customer Itu Beda, Jangan Disamakan
Pertama, kita luruskan dulu definisinya.
π₯ Buyer (Pembeli)
Orang yang mengambil keputusan.
Dia yang mengeluarkan uang.
Dia yang menentukan transaksi jadi atau tidak.
π― Customer / User (Pengguna)
Orang yang memakai produk.
Dia merasakan manfaatnya.
Namun, belum tentu dia yang membayar.
Dua peran ini sering berada di orang yang berbeda.
Contoh Paling Sederhana
Misalnya Anda menjual mainan anak.
π‘ Anak adalah User
π‘ Orang tua adalah Buyer
Anak tertarik warna dan bentuk.
Namun, orang tua peduli keamanan, harga, dan manfaat edukasi.
Jika iklan Anda hanya menyenangkan anak, transaksi bisa berhenti di situ.
Karena keputusan ada di tangan orang tua.
Mengapa Mengetahui Buyer Itu Krusial?
Di sinilah banyak strategi marketing gagal diam-diam.
1οΈβ£ Pesan Marketing Jadi Lebih Tepat Sasaran
Copy untuk user dan buyer itu berbeda.
π₯ User tertarik fitur dan kesenangan
π₯ Buyer fokus value dan manfaat jangka panjang
Buyer ingin tahu:
Apakah ini masuk akal?
Apakah ini aman?
Apakah ini layak dibeli?
Jika pesan Anda tidak menjawab itu, buyer tidak akan bergerak.
2οΈβ£ Biaya Iklan Jadi Lebih Efisien
Iklan mahal bukan karena platformnya.
Namun, karena targetnya salah.
π― Menyasar user saja = engagement tinggi, penjualan rendah
π― Menyasar buyer = klik lebih sedikit, closing lebih cepat
Saat Anda tahu siapa pemegang uangnya, anggaran iklan bekerja lebih cerdas.
3οΈβ£ Proses Closing Lebih Cepat
Berbicara langsung ke pengambil keputusan memangkas banyak hambatan.
π Tidak perlu perantara
π Tidak perlu βnanti saya tanyakan duluβ
π Tidak perlu follow up berlapis tanpa arah
Buyer yang paham value cenderung cepat berkata ya.
Setelah Tahu Buyer, Lalu Harus Ngapain?
Mengetahui buyer hanyalah langkah awal.
Langkah berikutnya adalah cara menjangkaunya.
Dan di sinilah banyak bisnis mulai serius memakai email.
Mengapa Email Efektif untuk Menjangkau Buyer?
Buyer biasanya sibuk.
Mereka tidak selalu responsif di media sosial.
Namun, inbox adalah ruang kerja mereka.
π₯ Komunikasi Lebih Profesional
Email terasa lebih serius dibanding chat atau DM.
Buyer terbiasa mengambil keputusan dari sana.
π― Personalisasi Berdasarkan Data
Anda bisa membedakan mana buyer dan mana user.
Pesan pun bisa disesuaikan dengan peran mereka.
π Biaya Sangat Efisien
Mengirim email edukasi ke buyer tidak membakar anggaran iklan.
π Masuk Inbox Utama
Pesan penting lebih mudah dibaca.
Tidak tenggelam di timeline.
βοΈ Otomasi Tanpa Ribet
Rangkaian email bisa berjalan otomatis.
Buyer mendapat edukasi sebelum ditawari.
Semua ini bisa dilakukan dengan sistem seperti Mailketing yang memang dirancang untuk komunikasi berbasis database.
Intinya Sederhana
Marketing bukan soal siapa yang suka produk Anda.
Marketing adalah soal siapa yang bisa membeli.
Jika buyer dan customer berbeda,
maka pesan Anda juga harus berbeda.
Fokuslah pada orang yang memegang keputusan.
Di sanalah transaksi terjadi.
π― Siap Membidik Buyer dengan Lebih Akurat?
Jangan biarkan pesan promosi Anda berhenti di orang yang salah.
Bangun komunikasi yang rapi, profesional, dan efisien dengan pengambil keputusan.







