Masalah Sebenarnya Saat Follow Up Email
Banyak pebisnis mengira masalah follow up ada di frekuensi.
Padahal, yang paling sering bikin gagal justru naskah emailnya.
Email terasa kaku.
Terlalu formal.
Atau fokusnya cuma satu: “kapan bayar?”
Namun, pelanggan bukan menolak produknya.
Mereka hanya tidak punya alasan kuat untuk membalas.
Di sisi lain, email follow up yang efektif itu sederhana.
Terasa personal.
Memberi nilai.
Dan tidak menekan.
Berikut ini contoh template email follow up yang bisa langsung Anda pakai.
Tinggal sesuaikan dengan gaya bisnis Anda.
3 Template Email Follow Up yang Terbukti Dapat Balasan
1️⃣ Template “Lupa / Terdistraksi”
Kirim 1–2 hari setelah kontak pertama
🎯 Tujuan utama template ini adalah mengingatkan dengan sopan.
Kita berasumsi pelanggan sedang sibuk, bukan mengabaikan.
Subject:
Cuma mau memastikan pesan ini sampai ke [Nama Depan]…
Isi Email:
Halo [Nama Depan],
Saya paham Kakak mungkin sedang cukup sibuk belakangan ini.
Saya hanya ingin memastikan email saya sebelumnya tentang [Nama Produk] sudah terbaca.
Jika ada bagian yang masih kurang jelas, silakan balas email ini ya, Kak.
Saya dengan senang hati bantu jelaskan.
Salam hangat,
[Nama Anda]
💡 Kenapa ini bekerja?
Nada emailnya ringan dan manusiawi.
Tidak menyudutkan.
Tidak memaksa.
2️⃣ Template “Memberi Solusi / Value”
Kirim 3–4 hari setelah kontak pertama
Namun, jika hanya mengingatkan saja belum cukup, saatnya memberi nilai.
Template ini tidak menjual.
Fokusnya membantu.
Subject:
Tips khusus untuk [Masalah Pelanggan] (untuk Kak [Nama Depan])
Isi Email:
Halo [Nama Depan],
Sambil Kakak mempertimbangkan [Nama Produk],
saya ingin berbagi satu tips singkat tentang cara [1 manfaat utama produk].
Beberapa pelanggan kami merasa tips ini membantu sebelum akhirnya memutuskan.
Semoga bisa memberi gambaran untuk Kakak juga.
Jika ingin diskusi lebih lanjut, silakan balas email ini ya.
Sukses selalu,
[Nama Anda]
🔥 Nilai jual utamanya bukan produknya.
Melainkan insight kecil yang relevan.
3️⃣ Template “Testimoni / Bukti Nyata”
Kirim 7 hari setelah kontak pertama
Akhirnya, jika pelanggan masih ragu, biarkan orang lain yang bicara.
Bukti sosial sering kali lebih kuat daripada penjelasan panjang.
Subject:
Apa kata mereka tentang [Nama Produk]?
Isi Email:
Halo [Nama Depan],
Jika Kakak masih mempertimbangkan apakah [Nama Produk] cocok,
mungkin pengalaman dari pelanggan kami ini bisa membantu.
“[Masukkan 1 testimoni singkat, spesifik, dan relevan]”
Kami ingin Kakak merasakan manfaat yang sama.
Kabari saya jika Kakak siap memulai, ya.
Teriring doa,
[Nama Anda]
💎 Testimoni singkat lebih efektif daripada klaim panjang.
Fokus pada hasil, bukan fitur.
Mengapa Template Ini Lebih Maksimal Jika Dikirim Otomatis?
Naskah bagus adalah fondasi.
Namun, timing tetap penentu hasil.
Di sinilah peran sistem seperti Mailketing menjadi krusial.
Dengan sistem yang tepat, template di atas tidak perlu dikirim manual.
Cara Mailketing Membantu Follow Up Anda Lebih Efektif
🔥 Personalisasi Otomatis
Nama pelanggan terganti otomatis tanpa input manual satu per satu.
🎯 Autoresponder Berurutan
Email hari ke-1, ke-3, hingga ke-7 terkirim otomatis sesuai alur.
📩 Peluang Inbox Primary Lebih Tinggi
Struktur email sederhana dan natural meningkatkan peluang terbaca.
💰 Biaya Super Efisien (Rp0,6 per Email)
Follow up berkali-kali tanpa takut biaya membengkak.
🔄 Sistem Pay Per Usage
Tidak ada biaya bulanan.
Kirim email hanya saat Anda butuh.
👉 Artinya, Anda bisa fokus menyempurnakan copywriting,
bukan sibuk mengatur jadwal kirim.
Kesimpulan: Follow Up Itu Soal Cara Bicara
Email follow up bukan alat menagih.
Melainkan jembatan kepercayaan.
Gunakan template di atas sebagai kerangka.
Sesuaikan dengan karakter brand Anda.
Dan biarkan sistem bekerja konsisten.
Jika copywriting dan timing sudah sejalan,
angka balasan akan naik secara alami.
🚀 Siap Mempraktikkan Template Ini?
Jangan biarkan template ini hanya tersimpan di catatan.
👉 Gunakan sistem automasi agar follow up berjalan tanpa ribet.
🎯 Pelajari cara mengirim email follow up otomatis langsung dari Mailketing.







